Mental Breaker



Hidup memang tak selalu berjalan seperti apa yang kita harapkan. Karena bagaimanapun juga, ada sang pemilik hidup yang mengatur semua hal. Bahkan ketika yang kita harapkan tercapai, bukan berarti kedepannya akan berjalan lancar. Kecewa, sedih, putus asa, tertekan, smuanya manusiawi untuk dirasakan, walaupun tentu saja tidak menyenangkan. Dan ketika kita sudah merasa berusaha semaksimal mungkin, hasil yang tidak sesuai dengan apa yg kita harapkan bukalah suatu kesalahan. Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa.

2 bulan sudah saya mulai berpraktek sebagai seorang dokter umum. Memasuki dunia baru dan bertemu dengan banyak sekali orang baru. Memang bukan jaga mendebarkan seprti teman2 yang bertugas di igd. Saya hanya berpraktek di sebuah praktek swasta, menggantikan seorang dokter senior yang cukup populer dan disukai pasien2nya. Durasi jaga pun tidak lama, hanya dari pukul 16.30 - 19.00 WITA. Selanjutnya dari pukul 19.00 - 21.00 beliau yang berpraktek dan saya bertugas mengasisteni, sambil belajar getoohhh, hihi. Yahh, menemani beliau praktek beberapa minggu cukup untuk membuat saya hapal obat2 apa saja yg biasa beliau berikan kepada pasiennya. Tentu saja ini menguntungkan bagi saya, hihi, sesuatu yang mungkin beliau pelajari dari pengalaman berpraktek berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun hanya perlu saya pelajari selama beberapa minggu :). Yaahh, jujur memang saya merasa sangat bersyukur memilili keluarga seorang dokter. Karena dengan begitu akan ada orang yang bersedia berbagi dan mengajari pengalaman2 yang telah didapatkan dengan senang hati. Terimakasih Allah, telah memudahkan jalan bagi hamba :')



Kembali ke praktek, walaupun saya bisa dikatakan hapal obat2 apa saja yg biasa beliau berikan, bukan berarti semua memberikan respon yang sama. Karena dalam pengobatan penentu kesembuhan bukan semata-mata dari obat apa yang diberikan.yahh, tentu saja hak mutlak ada pada pemilik kesembuhan, Allah lah yang menentukan seseorang akan sembuh atau tidak. Seorang dokter hanyalah sebuah perantara. Namun, terlepas dari itu, dalam dunia medis ada yang disebut sugesti. Dalam istilah medis, sugesti dapat diartikan kekuatan pikiran yang dapat mendorong seseorang untuk sembuh. Terlihat seperti tak ada artinya memang, "hanya" sebuah kekuatan pikiran yang tak berbentuk. Tapi jangan salah, sesuatu yang tak berbentuk inilah yang justru berperan sangat besar dalam proses kesembuhan pasien. Misalnya saja ketika anda berobat dan anda merasa tidak yakin dengan performa sang dokter lalu berimbas pada ketidakpercayaan bahwa anda akan sembuh, maka bukan tidak mungkin anda benar2 akan tidak sembuh. Begitupun sebaliknya, ketika anda merasa sakit dibagian tertentu dan kemudian datang ke pengobatan alternatif dan meyakini dengan berobat ditempat tersebut anda akan sembuh, bukan tidak mungkin rasa sakit itu kemudian akan menghilang perlahan setelah anda mengikuti intruksi dari yang mengobati. Inilah yang disebut sugesti. Ketika anda memiliki keyakinan akan sesuatu maka seluruh sel2 ditubuh anda akan bekerja sesuai apa yang ada dipikiran anda. Yahh, walopun tentu saja sugesti bukanlah satu-satunya penentu kesembuhan dalam dunia medis, tapi yang jelas sugesti berperan besar dalam kesembuhan pasien.

Inilah yang kadang memberatkan saya ketika harus menggantikan sang dokter senior. Terkadang ada beberapa pasien, hmmm oke, bukan beberapa, tapi banyak pasien yang juga sudah memiliki sugesti yang kuat bahwa mereka hanya cocok jika diobati oleh sang dokter senior. Berbagai bentuk kekecewaan mulai dari tidak jadi berobat, muka masam, hingga terkadang mengeluarkan kata2 yang terkadang membuat saya nyesek saya dapatkan dari pasien ketika harus menggantikan si dokter senior. Apalagi jika pasien2 ini kembali karena belum merasa sembuh. Saya sebut mereka para "mental breaker". Hahahaa. Yahh, saya memang manusia cupu yang terlalu perasa dan terlalu memasukkan ke hati hal-hal seperti itu. Mo bagaimana lagi, itu terjadi begitu saja. Sebenarnya saya sendiri pun benci skali jika harus merasa "down" saat bertemu para "mental breaker" ini. Tentu saja bukan salah mereka jika mereka kecewa dokter yang ada bukanlah dokter yang mereka harapkan karena saya pun mungkin akan merasakan hal yang sama jika berada di posisi mereka. Tapi meskipun saya bisa mengerti sikap mereka, tetap saja berhadapan dengan mereka membuat mental saya down. Awal2 praktek saya bahkan sering menangis dalam perjalanan pulang jika saat praktek bertemu dengan para mental breaker ini. Rasanya nyesek :( Tapi seiring berjalannya waktu saya sudah mulai kuat menghadapi para mental breaker ini, yahh paling tidak saya tidak pernah lagi menangis dalam perjalanan pulang, walopun tetap saja saya selalu berdoa agar tidak bertemu dengan para mental breaker, hihi :p

Hidup memang tidak pernah semudah yang kita bayangkan. Tapi dari sanalah kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai dokter fresh graduated tentu saja saya masih banyak kekurangan. Smoga apa2 yang saya dapatkan bisa menjadi pengalaman berharga dan membuat saya menjadi dokter yang lebih baik lagi nantinya. Semoga Allah berkenan menjadikan saya dokter yang berkompeten, berguna bagi orang banyak, sukses dunia akhirat, serta bisa membanggakan kedua orang tua dan keluarga, aamiinn ya Robb.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar