Aku, Kamu, dan Dia

Terkadang saya tidak mengerti, mengapa untuk sebagian orang memaafkan itu begitu sulit. Sebenarnya sebesar apa sakit hati yang dirasakan hingga memilih untuk memutus tali silaturahmi. “Bahkan mengingatnya saja membuat menangis. Sakit skalii!!” ungkap seorang sahabat. Sebesar apa, saudariku, hingga membuatmu harus slalu meneteskan airmata stiap mengingatnya. Apakah melebihi kebencian kita kepada musuh-musuh Allah yang terus saja menyakiti saudara-saudari kita di negeri Palestina sana. Apakah dia melakukan hal keji seperti yang dilakukan para tentara zionis? Ataukah hanya sekedar harga dirimu yang terluka hingga kau memilih untuk membencinya. Sekedar? Yahh, mungkin bagiku hanya sekedar, tapi tidak bagimu. Ak tau, pasti itu bukan luka yang kecil. Ak tau, kau juga pasti merasakan sakit ketika memilih untuk membencinya. Ak tau, kau selalu berusaha keras untuk memaafkannya, walaupun usahamu tidak pernah berakhir dengan keberhasilan untuk memaafkannya.

Tapii, ahhh, tetap saja, ak tak bisa memahaminya. Bahkan kesedihannya tak mampu melunakkan hatimu. Pun dengan kebahagiaannya, tak bisa ikut kau rasakan manisnya.Hari-hari indah yang pernah kita lalui, pelukan2 hangat dan airmata saat kita bersama, doa-doa yang sering kali terucap di sela kebersamaan kita, tak bisakah itu menghapus sedikit luka dihatimu?



“Ak memilih untuk menjauhinya agar rasa sakitnya tidak semakin membesar”ungkapmu lagi. benarkah? Hanya itukah satu-satunya cara melupakan sakit hatimu? Tidakkah itu akan membuatmu memelihara rasa sakit hatimu? Aahhh, mungkin tidak juga. Toh, ak pun kadang begitu. Memilih untuk menjauh sesaat, sampai akhirnya bisa melupakan kebencian yang ada. Dan Maha Besar Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, cara itu selalu berhasil untukku. Yahh, mungkin beginilah cara kita. Bukan memutus silaturahmi, hanya beristirahat sejenak dari bertemu dengannya. Menata kembali hati dan perlahan memaafkannya. Mungkin saat ini yang ak bisa hanya bersabar menunggu sampai luka dihatimu kering, karena memaksamu memaafkannya mungkin akan semakin membuat kebencianmu meradang. Dan kelak, saat luka itu benar2 mengering, mungkin bekasnya akan selalu menempel disana, tapi ku harap rasa cinta yang dulu kita bangun karena Allah akan mampu menyamarkan nodanya. Sampai saat itu tiba, biarlah ak mengalah untuk tidak memaksakan ak dan kamu, ak dan dia, menjadi kitaa...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar